Gary Cahill Dibidik Klub Turki

Bek gaek milik Chelsea, Gary Cahill kabarnya menjadi salah satu pemain yang diincar oleh klub raksasa dari Turki yakni Galatasaray. Transfer ini akan coba diwujudkan oleh Galatasaray saat bursa transfer musim dingin resmi dibuka bulan Januari nanti.

Chelsea merekrut Cahill pada tahun 2011 silam dari Bolton Wanderers. Selama berkostum The Blues, pemain berusia 32 tahun itu tercatat telah tampil dalam 285 pertandingan di seluruh kompetisi. Meski sebelumnya selalu menjadi pilihan utama di jantung pertahanan Chelsea, kini posisi Cahill terlihat sudah mulai tergeser musim ini. Dibawah arahan Maurizio Sarri, Cahill saat ini baru tampil dalam tiga pertandingan dan hanya mencatatkan satu pertandingan di ajang Premier League saat ini.

Kontrak Cahill sendiri akan segera berakhir musim panas tahun depan. Jadi jika tidak ingin kehilangan sang pemain dengan status bebas transfer, maka Chelsea bisa melegonya ke klub lain bulan Januari nanti. Kemungkinan hengkangnya Cahill ini bahkan sempat dikonfirmasikan langsung oleh sang pemain. Ia sempat mengakui bahwa dirinya mungkin saja akan angkat kaki dari Stamford Bridge di awal tahun 2019 mendatang.

Melihat situasi Cahill tersebut, Galatasaray ingin memanfaatkannya untuk bisa memboyong dirinya ke kompetisi Liga Turki. Dengan kemampuan dan pengalaman Cahill selama memperkuat Chelsea, dirinya diharapkan akan bisa membangun tembok kokoh di lini belakang Galatasaray nantinya.

Meski telah menunjukkan minat serius untuk bisa memboyong Cahill ke Turki, namun langkah Galatasaray diyakini tidak akan berjalan dengan mudah. Pasalnya, West Ham United juga siap bersaing untuk bisa mendapatkan tanda tangan pemain asal Inggris tersebut. Selain menawarkan Cahill untuk terus berkompetisi di ajang Premier League, The Hammers sepertinya juga akan memberikan garansi satu tempat utama bagi Cahill andai sang bek tengah bersedia untuk memperkuat tim asal London itu musim dingin nanti.

Sergio Aguero Pemain Terbaik di Premier League

London – Willo Flood menilai tinggi kualitas penyerang Manchester City, Sergio Aguero dianggap pemain terbaik sepanjang sejarah di Premier League.

Flood adalah satu pemain Dundee United F.C yang berprofesi sebagai gelandang, ia memulai kariernya sejak tahun 2002 dan kini usia pemain tersebut berusia 33 tahun asal Republic Irlandia.

Selain itu Flood juga pernah mengagumi beberapa pemain yang berkemampuan hebat seperti, Ruud Van Nistelrooy, Thiery Henry dan Alan Shearer, namun ketiga pemain tersebut bukan yang terhebat di mata Flood.

Menurut Flood pemain terbaik yang pernah merumput di Premier League adalah Sergio Aguero karena ketajaman serta kelincahan pemain ini sangat bagus sejak ia bergabung bersama City di tahun 2011 sampai sekarang.

Sergio Aguero juga sudah mencatat gol terbanyaknya sekitar 148 gol yang membuat pemain ini menjadi pemain tertajam sepanjang kompetisinya. Bukan hanya itu juga, Aguero juga memberikan tiga gelar Premier League untuk Manchester City.

Aguero bahkan hampir mendekati rekor Thiery Henry yang terkait jumlah hat-trick di Premier League, yakni sembilan hanya selisih dua dengan mantan penyerang Prancis.

“aguero pemain terbaik yang berada di premier league , penyerang satu ini sungguh hebat dan tidak memiliki kelemahan sama sekali” ucap Flood..

Baru baru ini saja Aguero sudah berhasil mencetak tiga gol di awal pekan Premier League musim panas ini dan membawa Man.City di posisi pertama klasemen sementara.

 

City Kesulitan Hadapi Tim Dengan Gaya Pragmatis

City Kesulitan Hadapi Tim Dengan Gaya Pragmatis

Musim kompetisi baru akan segera dimulai pada akhir pekan ini. Menyambut musim ini, manajer Manchester City, Pep Guardiola mengakui bahwa saat ini timnya masih kesulitan jika dihadapkan dengan tim yang bermain dengan gaya bertahan total.

Sepanjang musim lalu City memang memainkan sepakbola menyerang. Mereka sukses mencetak total 106 gol selama semusim dan berhasil keluar sebagai juara Premier League. Total gol tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah kompetisi paling elit di daratan Inggris tersebut.

Meski terlihat sangat berbahaya dalam melancarkan serangan, namun hal itu tidak serta merta membuat The Citizen selalu nyaman dalam menghadapi semua lawan-lawannya. Mereka kadang terlihat begitu kerepotan ketika harus bermain melawan tim yang bermain sangat jauh ke belakang.

Hal itu sebenarnya sangat wajar mengingat komposisi skuat yang tentu jauh tertinggal dari apa yang dimiliki oleh City. Permasalahan inilah yang saat ini tengah menjadi fokus utama dari Guardiola untuk dipecahkan nantinya.

“Kami tetap akan memainkan filosofi kami seperti sebelumnya. Namun kami memang mengalami masalah ketika menghadapi tim yang menerapkan strategi dengan lima bek. Saat itu penyerang mereka berada di posisi gelandang bertahan dan 10 pemain berada di wilayah belakang mereka,” ucap Guardiola.

“Kami terus mencari jalan untuk merusak sistem tersebut. Jika melawan tim-tim tersebut maka pertanyaannya adalah bagaimana kami akan bermain dan apa yang akan kami lakukan. Sebelum menjawab pertanyaan itu, hal utama yang harus saya ketahui adalah kualitas dari para pemain yang ada,” lanjutnya.

“Saya sudah tahu akan menghadapi situasi tersebut kembali. Namun saya juga tetap harus mengetahui bagaimana taktik yang akan mereka gunakan. Mereka mungkin saja mengandalkan pressing tinggi atau bermain dengan sangat dalam ataupun mengandalkan bola-bola panjang untuk menyerang balik ataupun dengan berusaha memenangkan ball possession. Semua akan berbeda dan inilah yang menarik dari sepakbola. Setiap pertandingan akan menawarkan hal yang berbeda pula,” tutup mantan pelatih Barcelona dan Bayern Munich itu.

Korsel Punya Penerus Park Ji-Sung

Korsel Punya Penerus Park Ji-Sung

Meski gagal membawa Korea Selatan melangkah jauh di Piala Dunia 2018 ini, namun jika melihat performa dari Son Heung-min banyak pihak yang meyakini bahwa Korea saat ini telah menemukan sosok penerus Park Ji-sung. Son begitu panggilan akrabnya diyakini akan memiliki karier yang gemilang ke depannya.

Korea memang harus tersingkir di babak fase grup dengan hanya mampu mengumpulkan tiga angka dari 3 pertandingan yang dijalani. Namun Son berhasil menorehkan dua gol untuk negaranya dari tiga gol yang berhasil dicetak oleh Korea dalam tiga pertandingan tersebut.

Son menorehkan gol pertama dirinya setelah berhasil membobol gawang Meksiko di pertandingan kedua di grup F. Sementara gol kedua dirinya ia ciptakan ke gawang Jerman saat memimpin negaranya menaklukkan sang juara bertahan dengan skor 2-0 di pertandingan ketiga fase grup.

“Kami berhasil menaklukkan juara bertahan dan itu merupakan sebuah mimpi bagi kami. Saya sangat bangga dengan apa yang telah dilakukan oleh skuat ini,” ucap Son.

“Kami semua pasti merasa kecewa karena tidak bisa lolos ke babak selanjutnya. Akan tetapi, saya rasa baik saya dan seluruh skuat tim ini bisa sedikit merasa bangga dengan kemenangan yang kami raih atas Jerman,” tambah pemain berusia 25 tahun itu.

Tambahan dua gol ini membuat koleksi Son menjadi tiga gol di ajang Piala Dunia. Empat tahun lalu ia sukses mencetak satu gol untuk negaranya di Brasil saat Korea mengakui keunggulan dari Aljazair dengan skor 4-2.

Pemain kelahiran Chuncheon itu telah lama mengenal sepakbola Eropa. Saat berusia 16 tahun ia telah masuk ke akademi klub asal Jerman, Hamburg SV. Usai tiga musim memperkuat tim utama Hamburg, Son memutuskan untuk hijrah dan bergabung dengan Bayer Leverkusen pada tahun 2013 lalu.

Performa impresif Son bersama Leverkusen mampu menarik minat dari klub Premier League, Tottenham Hotspur. Spurs akhirnya memutuskan untuk memboyong Son ke London pada tahun 2015. Musim lalu Son mencatatkan salah satu musim terbaiknya bersama dengan Spurs. Tampil dalam 52 pertandingan, ia sukses menorehkan 18 gol untuk Spurs di semua kompetisi.

Beberapa waktu ini berhembus kabar bahwa manajer Manchester United, Jose Mourinho tertarik untuk memboyong Son ke Old Trafford. Jika Son sampai bergabung ke United, maka dirinya akan mengikuti jejak seniornya di Korea Selatan yakni Park Ji-Sung. Seperti diketahui, Park sukses meraih banyak kesuksesan selama memperkuat The Red Devils selama tujuh musim. Bahkan Park Ji-Sung disebut-sebut sebagai pemain tersukses Korea yang pernah ada dalam sejarah.